Oleh: nay4rabbit | Agustus 28, 2009

Marketing Kelinci Via Internet

Mau sedikit sharing, waktu iseng2 baca artikel majalah Infoven lama, saya tertarik untuk mempostikan artikel yang sedikit berhubungan dengan kelinci tersebut, siapa tahu berguna bagi penghobi atau pecinta kelinci yang ingin mencoba untuk berternak kelinci.

Salahsatu fenomena perkembangan bisnis ternak kelinci berbasis Internet bisa kita ambil dari seorang pemuda dari Temanggung Jawa Tengah. Farid Ibrahim (27), di awal tahun ini memilih beternak kelinci jenis impor. Alasannya karena modal untuk untuk ternak kelinci tidak terlalu besar. Kebutuhan rumput tidak banyak. Dengan memelihara sebanyak 20 ekor kelinci induk ia hanya butuh pakan satu karung, setara dengan kebutuhan seekor kambing. Pakan tambahan bisa dicari dari pakanan unggas seperti bekatul, dedak atau pelet. Farid yang juga salahsatu pengajar di pesantren “Ridlo Allah” Kaloran Temanggung itu pada mulanya memang tertarik dari salahsatu peternak di Kawasan Wisata Bandongan Semarang. Namun alasan yang membuat ia tergerak berani memilih ternak kelinci adalah karena informasi yang ia dapatkan dari internet. Dari informasi itu ia mendapatkan banyak pelajaran tentang metode peternakan kelinci, ia pun memberi beberapa buku tentang peternakan kelinci. Belajar otodidak ini membuatnya merasa percaya diri untuk menjadi peternak serius. Internet pula yang membuat Farid memiliki akses jaringan yang luas dari para peternak di beberapa daerah di luar kota, seperti Purwokerto, Semarang, Lembang, Parongpong (Bandung), Cipanas Bogor, Jakarta, Klaten dan lain-lain.

Melalui komunikasi internet –yang kemudian berlanjut pada komunikasi selular hingga hubungan darat- Farid menjalin relasi untuk mencari bibit kelinci jenis hias dari Bandung, terutama dari Parongpong. Berbagai jenis hias yang selama ini hanya dimiliki peternak elit dengan harga mahal ia kembangkan di Temanggung. Alasannya, di daerah Jawa Tengah jenis-jenis hias tidak sebanyak di Bandung. Dengan demikian ia merasa percaya diri menawarkan beragam jenis kelinci hias di Temanggung dan sekitarnya. Dari internet pula Farid mengembangkan hubungan yang harmonis dengan seorang saudagar pakan ternak terkenal dari Klaten. Dari Klaten itu ia bisa membeli harga pakan ternak kelinci lebih murah dibanding harga pelet unggas atau pakan jenis lain.

Selain relasi tersebut, Farid juga sering mendapat pesanan kelinci beragam jenis dari daerah-daerah lain, sampai-sampai ia merasa kebingungan dengan permintaan pasar. Ia tidak mungkin menjual induknya, sebab kalau induk dijual berarti tidak ada lagi anakan yang akan dijual. Karena itu yang dibutuhkan Farid sekarang adalah menambah jumlah induk dengan cara tidak menjual anaknya dalam jangka waktu 6 bulan agar menjadi induk-induk tambahan. Dengan begitu kelak beberapa induknya akan menghasilkan anakan-anakan kelinci hias lebih banyak dan mampu memenuhi permintaan pasar lebih besar.

Pangsa Pasar Kelinci

Di luar peranan internet dalam memainkan perkembangan ternak kelinci, apakah dari sisi bisnis kelinci benar-benar menguntungkan? Dari pelbagai perbincangan penulis dengan para peternak di Lembang, Parongpong dan peternak daerah lain melalui internet dan wawancara telepon saya bisa memberikan rasio perhitungan berikut ini:

Analisa budidaya kelinci impor untuk kategori pedaging per 50 ekor induk untuk peliharaan setahun:

1) Biaya Produksi

a. Rumah untuk kandang Rp 1.500.000

b. Kandang besi dan perlengkapan Rp. 2.000.000,-

c. Bibit induk 50 ekor @ Rp. 100.000, = Rp. 5.000.000,-

d. Pejantan 5 ekor @ Rp. 150.000,- Rp. 750.000,-

e. Pakan rumput (relatif)

Pakan pellet/konsentrat perbulan kira-kira Rp 100.000 x 12= 1.200.000

f. Obat dan vitamin (setahun) Rp. 500.000

h. lain-lain termasuk rumput 1 juta

Jumlah biaya produksi Rp. 11.950.000

2) Pendapatan rata-rata 46 ekor:

Pilihan penghasilan dalam setahun:

a. Jual anak (usia 1 bulan) dari 46 ekor betina x 6 anak = 276 x 6 ( dalam setahun)= 1656 ekor x Rp 10.000 (harga anak): Penghasilan bersih 16.560.000

b. Jual (dewasa 4 bulan) dari 46 betina x 6 anak = 276 x 3 (dalam setahun)= 828 x Rp 40.000 (harga dewasa) = 33.120.000:

(keuntungan dikurangi biaya tambahan makan dan obat Rp 1.000.000): penghasilan bersih Rp 32.120.000

c. Jual (bibit 7 bulan) dari 46 betina x 6 anak = 276 x 1 (7-12 bulan) = 276 x Rp 150.000 = Rp 41.400.000

(keuntungan dipotong biaya tambahan makan dan obat Rp 2.000.000)

Penghasilan bersih = Rp 38.400.000

Keuntungan tersebut bisa juga dikombinasikan dengan membagi penjualan anak mulai dari umur 1 bulan sampai umur 6 bulan (induk). Untuk kelinci hias biaya induk lebih mahal. Namun keuntungannya 2x lipat lebih tinggi. Jadi sebenarnya kalau kita hitung secara kalkulatif, ternak kelinci dengan modal antara 10-12 juta dalam waktu 7 bulan sudah balik modal. Untuk selanjutnya peternak bisa meraih keuntungannya. (Catatan: Hitungan yang saya buat tersebut tentu saja hanyalah prakiraan. Bisa saja kurang dan bisa lebih)

Bagi yang tidak memiliki modal besar jangan khawatir. Sebab ternak kelinci juga bias dimulai dari beberapa ekor. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kelinci sudah menjadi kebutuhan massal di masyarakat kita? Memang, untuk jenis kelinci pedaging kita tidak melihat potensi pasar seluas peliharaan lain seperti domba dan unggas. Hanya sedikit orang yang tertarik mengonsumsi kelinci, itupun dalam kurun waktu yang relatif lama. Tapi di beberapa kota besar seperti Malang, Yogyakarta, Bandung Utara, Semarang dan beberapa kota lain sekarang ini kebutuhan sate kelinci lumayan meningkat di banding 5 tahun sebelumnya. Bahkan pasokan daging kelinci masih teramat kurang. Ini artinya pasar masih sangat terbuka lebar.

Kekhawatiran akan terjadinya over-produksi barangkali belum perlu dipikirkan. Kalaupun dalam jangka waktu 5 tahun ke depan over-produksi terjadi, para peternak masih bisa mengembangkan pasar ke kalangan masyarakat. Masyarakat kita sebenarnya lumayan suka dengan daging kelinci, hanya saja karena kurang terbiasa sehingga daging kelinci kurang dilirik. Saya kira ketika ada stok daging kelinci di pasar sebagaimana daging sapi, kambing kemungkinan besar daging kelinci termasuk komoditi yang sangat bagus. Di sinilah pentingnya promosi lebih giat dari media massa dan pemerintah agar daging kelinci yang memiliki protein tinggi dan minim kolesterol ini dikonsumsi masyarakat. Jenis kelinci hias lebih mahal dari pedaging. Satu hal yang membuat peternak kelinci hias akan berkembang adalah ketika masyarakat mulai mengemari hobi memelihara kelinci. Sebenarnya kelinci hias seperti Holland Lop, Fuzzi Lop (Belanda), Dutch (Belgia), Rex (Amerika) dan berbagai jenis lain sangat menarik di banding dengan memelihara kucing atau anjing sekalipun. Hanya saja karena masyarakat kita belum begitu mengenal beragam jenis hias impor sehingga belum tertarik. Saya yakin jika para penggemar hewan peliharaan itu mengenal lebih dekat tentang kelinci, mereka tidak akan lama-lama merogoh kocek untuk membelinya.

(dimuat di majalah Infovet edisi Desember 2007)

Salam Kelinci Mania😀

-Nay4Rabbit’s-


Responses

  1. Posting tidak dimaksudkan untuk menggurui siapa pun, hanya untuk menambah wawasan para pecinta kelinci barangkali ada yang belom pernah membaca artikel tersebiut sebelumnya.

    Salam Kelinci Mania🙂

    -Nay4Rabbit’s-

  2. Artikelnya bagus & bermanfaat. Thanks.

    • Terima kasih sudah berkenang untuk mengunjungi blog ini dan memberikan komentar.
      Mohon maaf kalo masih banyak kekurangannya, jika berkenan silahkan sharing pengalamannya.

      Trims,. ^_^

  3. kami baru saja berjalan untuk kelinci lokal dan hias tapi gambaran penjualan kami belum mendapat info yang pasti gimana .nich tolong infonya

    • Klo untuk jualan kelinci cukup banyak kok pasarnya di Indonesia ini. Bisa kita iklankan melalui internet atau gabung ke komunitas pecinta kelinci.

      Salam

      -Nay4Rabbit’s-

  4. aku mau jual anakan kelinci anakan flam, anggora, crek inggris jumlahnya ada 50 ekor…
    kalo penjualan kelinci di daerah purwokerto atau purbalingga ada ngk ya???

    • Kebetulan klo kita cm lokalan kediri dan sekitarnya aja sih mas

      next kita infokan ke teman2 deh yg ada disana

      Trims,.
      -Nay4Rabbit’s-

  5. tolong informasinya tempat penjualan kelinci hias dan lokal di sekitar cilacap mana

  6. biasanya peternak kelinci membuat pakan sendiri atau pakan jadi ?
    saya menjual tepung ikan untuk campuran pakan kelinci. Protein tepung ikan 45% – 50%.
    Kalau teman-teman peternak kelinci membutuhkan tepung ikan, bisa menghubungi saya.

    Tanto
    Tilp. 08121740404,08175003911.
    Email : hartanto_te@yahoo.co.id


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: